PROPOSAL PENGAJUAN
PRODUKSI BENIH KETIMUN
CV.
TANI MAKMUR

DISUSUN OLEH :
Anang Widi Nugroho (7810)
SMK N 1 (STM PEMBANGUNAN) TEMANGGUNG
Jl.
Kadar Maron Sidorejo, KotakPos 104, Telp (0293)
4901639 Temanggung 56221
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Hortikultura merupakan komoditas pertanian
khas tropis yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan memiliki prospek
yang cerah di masa mendatang sekaligus sebagai sumber perolehan devisa bagi
Indonesia. Nilai ekspor hortikultura pada bulan Februari 2007 mengalami
peningkatan sebesar 34,46 persen dari bulan Januari 2007. Permintaan pasar
domestik maupun pasar internasional terhadap komoditas hortikultura di masa
mendatang diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah
penduduk dan tingkat pendapatan. Tanaman hortikultura merupakan salah satu
tanaman yang menunjang pemenuhan gizi mayarakat sebagai sumber vitamin,
mineral, protein, dan karbohidrat. Produksi hortikultura yaitu sayuran dan
buah-buahan menyumbang pertumbuhan sektor pertanian nasional masing-masing
sebanyak 3,1 juta ton dan 2,6 juta ton.
Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.)
merupakan salah satu dari tujuh jenis tanaman sayuran utama yang dibudidayakan
oleh petani di Indonesia selain bawang merah, cabai, kacang panjang, kentang,
kubis, dan tomat. Hampir di setiap wilayah Indonesia Mentimun menjadi
alternatif komoditi yang dibudidayakan oleh petani hortikultura. Namun hingga saat ini produktivitas yang
dicapai persatuan luas lahan hanya mencapai 25 persen dari potensial produksi
varietas mentimun yang beredar di Indonesia (Dit. Perbenihan Hortikultura,
Ditjend. Hortikultura, Kementan., 2012).
Tabel 1. Luas panen, produksi, dan
produktivitas Mentimun
|
|||||
Indikator
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
Luas panen (Ha)
|
6,921
|
53,596
|
51,283
|
49,296
|
48,578
|
Produksi (Ton)
|
547,141
|
521,535
|
511,525
|
491,636
|
477,976
|
Produktivitas (Ton/Ha)
|
9 .61
|
9.73
|
9.97
|
9.97
|
9.84
|
Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat
Jenderal Hortikultura
|
|||||
Hingga tahun 2014 diketahui ketersediaan mentimun melalui
produksi masih mencukupi kebutuhan nasional meskipun mengalami penurunan, namun penurunan luas lahan dan
rendahnya produktivitas perlu diwaspadai sehingga dikemudian hari Indonesia
tidak bergantung kepada impor.
Rendahnya
produktivitas mentimun dapat diatasi dengan menggunakan bahan tanam yaitu
benih mentimun yang unggul, berkualitas
serta bersertifikasi. Benih bersertifikasi adalah benih yang sudah di resmikan
oleh pemerintah setempat bahwa benih tersebut layak digunakan. Mengingat
pentingnya benih, perlu diadakannya usaha untuk membuat benih yang berkualitas.
BAB II
Kegiatan Produksi
A. Produksi benih ketimun
(Cucumis sativus)
Kegiatan budidaya tanaman meliputi a)
persemaian, b) pengolahan lahan, c) pemeliharaan, d) panen dan pasca panen, e) pengujian
benih. Dalam kegiatan budidaya tanaman ketimun yang dilakukan oleh petani adalah dengan menggunakan benih ketimun yang berasal dari
perusahaan. Benih ketimun indukan
tersebut dinamakan stock seed.
Benih ketimun
KE005 merupakan benih hibrida. Varietas hibrida merupakan generasi
pertama atau FI dari suatu persilangan sepasang atau lebih tertua yang
mempunyai sifat-sifat unggul. Kedua tetua dari varietas hibrida merupakan galur
murni. Keunggulan yang terjadi pada hibrida yaitu karena adanya efek heterosis.
Heterosis adalah keunggulan hibrida (F1) yang melebihi nilai atau kisaran kedua
tetuanya. Penyebab dari heterosis masih belum pasti, akan tetapi secara genetik
terjadi karena adanya: 1) heterozigositas dalam arti over dominan, dimana nilai
F1 melebihi nilai kedua tetuanya karena adanya interaksi antar gen dalam satu
lokus, 2) akumulasi gen dominan, dimana gen dominan dari satu tetua menambah
dominan dari tetua lain, 3) interaksi antar alel berbeda lokus yang memberikan
nilai lebih karena hasil penambahan dan perkalian gen dominan pendukung
keunggulan sifat (Poespodarsono, 1998).
2.
Budidaya Tanaman Ketimun (Cucumis
sativus)
a. Persiapan Lahan
Pesiapan lahan bertujuan untuk menciptakan
media tumbuh yang cocok untuk tanaman ketimun, baik tekstur tanah, drainase,
maupun aerasinya. Pengolahan lahan dilakukan secara bertahap.
Sebelum petani melakukan pengolahan lahan
maka terlebih dahulu ditentukan isolasi dengan varietas lain di sekelilingnya,
hal ini penting dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi persilangan (Crossing)
dan pencampuran fisik dengan varietas lain, sehingga akan diperoleh benih yang
murni.
Tahap pertama dalam pengolahan lahan maka
dilakukan pembajakan terlebih dahulu pembajakan tanah ini di lakukan 15 hari
sebelum tanam dengan menggunakan bajak rotary. Setelah itu dilakukan pembuatan
saluran drainase atau got keliling sedalam ±50 cm dan lebar 50 cm untuk
menghindari genangan air. Setelah membuat saluran drainase selanjutnya
pembentukan guludan, untuk tanaman jantan letaknya di pinggir dan untuk tanaman
betina terletak di area tengah pada lahan. Selanjutnya di lakukan pemberian
kapur dolomite sebanyak 100 kg untuk populasi 1000 tanaman ketimun. Setelah
dilakukan pemberian dolomit kemudian disiram dengan air agar dolomit dapat
segera beraksi dengan tanah.
Tanah yang sudah di olah kemudian di
biarkan selama 1-2 minggu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan mengeringkan
lahan yang telah diolah, agar hama dan pathogen yang terdapat di lahan tersebut
terbunuh dengan adanya panas dari sinar matahari.
Tahap kedua dari pengolahan lahan yaitu
melakukan pembuatan guludan yang siap untuk ditanami. Untuk budidaya ketimun
sistem tanam yang digunakan adalah single row. Guludan dibuat dengan lebar 60
cm dan tinggi guludan 30 cm, setelah terbentuk guludan maka selanjutnya adalah
pemberian pupuk dasar untuk luas lahan 500 m2 dengan populasi
tanaman sekitar 1000 tanaman yaitu ZA 15 kg, KCL15 kg. Pemberian pupuk dengan
cara disebar di alur penanaman. Setelah diberi pupuk dasar selanjutnya adalah
melakukan penyiraman (turap atau lep) dengan tujuan agar pupuk segera dapat
diserap oleh tanaman.
Pemasangan mulsa plastik hitam perak dilakukan
setelah guludan basah dengan tujuan agar menjaga kelembaban tanah dan menekan
pertumbuhan gulma. Pemasangan mulsa di lakukan pada siang hari sekitar jam 12-2
siang, hal ini bertujuan agar mulsa dapat mudah di ulur dan biar tidak cepat
mengkerut sehingga bisa tahan lama.
Setelah pemasangan mulsa hitam perak, kegiatan dilanjutkan dengan pembutan
lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang sudah ditetapkan. Lubang tanam di
buat sedalam 5 cm dan lebar 10 cm.
Sistem tanam yang digunakan dalam budidaya
ketimun ada 2 yaitu :
Single row (baris tunggal) adalah penanaman ketimun dimana
dalam satu guludan terdapat satu baris tanaman
- Lebar guludan : 60 cm
- Jarak tanam : 110 cm x 50 cm
- Ukuran mulsa : 80 cm
Sistem penanaman
ini dilakukan pada tanaman Female F1 yang polinasinya dilakukan pada cabang.
Double row (baris ganda) adalah penanaman ketimun dimana dalam satu
guludan terdapat dua baris tanaman
- Lebar guludan : 80 cm
- Jarak tanam : 60 cm x 50 cm
- Ukuran mulsa : 120 cm
Sistem penanaman ini dilakukan pada tanaman
jantan dan jenis tanaman ketimun OP
b.
Persemaian
benih
Persemaian dilakukan dengan menggunakan
polibag. Media yang digunakan adalah tanah yang gembur, steril, dan murah.
Biasanya para petani menggunakan tanah yang berada dibawah pohon bambu. Tanah sebaiknya
diayak terlebih dahulu untuk menghilangkan batu dan kerikil, karena benda
tersebut dikhawatirkan akan perakaran benih yang sehingga pertumbuhannya akan
terganggu. Setelah tanah selesai di ayak kemudian dicampur dengan pupuk SP-36
sebanyak 1kg.
Polibag yang digunakan untuk persemaiaan
adalah polibag dengan ukuran lebar 6 cm dan panjang 100 cm (berbentuk sosis).
Langkah pertama adalah dengan mengisi polibag dengan media/tanah yang sudah
seteril. Kemudian potong polibag (berbentuk sosis) yang sudah diisi tanah
menjadi kecil-kecil sepanjang 6 cm dan tata ditempat pesemaian, kebutuhan
polibag : tanaman betina = 750 buah, tanaman jantan = 250 buah.
Sebelum melakukan persemaian Stockseed
ketimun ada beberapa cara yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan yaitu
dengan menjemur benih Stock seed selama
30 menit, Penjemuran benih Stock seed ini
dilakukan untuk menurunkan kadar air. Setelah dijemur maka benih Stock seed ini harus direndam terlebih
dahulu dengan menggunakan air dingin selama 2-3 jam, Setelah direndam maka benih
Stock seed harus di cuci bersih lalu
ditiriskan, pencucian ini di lakukan untuk menghilangkan lendir. Jika tidak dihilangkan
lendir tersebut akan menimbulkan jamur dsb.
Benih Stock
seed yang telah selesai ditiriskan kemudian dilakukan proses pemeraman dengan
tujuan untuk merangsang benih agar tumbuh secara serempak. Pemeraman benih ini
dapat dilakukan dengan menggunakan kain kaos atau kertas buram (kertas CD).
Penggunakan kain kaos atau kertas buram ini dipilih karena kaos dan kertas
buram memeliki kelembapan yang tinggi.
Pemeraman menggunakan kain kaos dilakukan
dengan cara merendam kain kaos yang bersih ke dalam air panas atau mendidih
selama 5-10 menit (agar jamur dan bibit penyakit mati), peras sampai tuntas
(tidak menetes ). Jika menggunakan kertas buram dilakukan dengan cara mencelupkan
kertas buram rangkap 3 kedalam air dingin hingga basah semua, angkat dan
biarkan hingga airnya tidak menetes. Jika sudah benar-benar tidak menetes
kemudian benih ditata satu lapis (tidak menumpuk) diatas kain kaos atau kertas buram
dalam kondisi lembab kemudian ditutup dengan kain kaos atau kertas dan digulung
atau dilipat kemudian diletakkan di tempat yang bersuhu hangat & stabil.
Pemeraman biasanya dilakukan pada malam
hari sehingga pada pagi harinya benih Stock
seed yang telah diperam akan keluar calon akar atau radikula, dan siap
dipindah ke polibag.
Persemaian untuk benih ketimun ini
dilakukan selama 6-7 hari. Perawatan yang dilakukan selama proses persemaian
hanya menyiram air setiap hari pada waktu pagi hari. Penyiraman dilakukan pada
pagi hari hal ini dilakukan karena proses fotosintesis maksimal terjadi pada waktu
pagi sampai siang hari. Intensitas penyiraman melihat kondisi media semainya.
Waktu penyemaian tanaman jantan dan betina
dilakukan secara berbeda, hal ini bertujuan agar pertumbuhan tanaman jantan lebih
cepat dan dapat berbunga lebih cepat karena bunga jantan tanaman jantan
digunakan untuk polinasi di bunga betina tanaman betina.
c. penanaman
penanaman dilakukan setelah bibit berumur 6-7
hari setelah semai (hss) yaitu kotiledon sudah terbuka dan daun sempurna sudah
nampak. Jika bibit semai terlambat di pindahkan maka yang akan terjadi adalah
tanaman sudah besar dan cepat layu.Sebelum dilakukan penanaman pastikan
pemberian pupuk dasar telah diberikan minimal 7 hari sebelumnya.
Penanaman dilakukan pada sore hari antara
pukul 14.00-selesai dengan cara membuka plastik polibag kemudian memasukkan
bibit kedalam lubang tanam sampai diatas leher akar. Setelah itu kemudian dilakukan penyiraman
agar tanaman segera dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
d.
Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan pada saat produksi benih ketimun
antara lain yaitu, penyulaman, pemasangan lanjaran, pengairan, pemupukan
susulan, pewiwilan dan pengandalian hama.
a.
Penyulaman
adalah mengganti tanaman yang tidak tumbuh
atau mati. Dalam budidaya ketimun penyulaman dapat dilakukan maksimal 5 hari
setelah tanam untuk tanaman OP atau tanaman jantan, sedangkan untuk tanaman
betina penyulaman dilakukan maksimal 2 hari setelah tanam.
b.
Pemasangan Lanjaran
Pemasangan Lanjaran sebaiknya
segera dilakukan untuk menghindari putusnya akar apabila pemasangan lanjaran
dilakukan terlalu lama. Tinggi lanjaran 150 cm dan dipasang tegak, 1 lanjaran
untuk 1 tanaman dan diberi tali rambatan 3-4 tingkat. Tali rambatan digunakan
untuk mempermudah melakukan perawatan.
c.
Pengairan
Pengairan
dilakukan dengan menggunakan air bersih dan dilakukan sesuai dengan
kebutuhan tanaman, karena tanaman ketimun termasuk jenis tanaman yang
membutuhkan air cukup banyak. Waktu pemberian air yang perlu diperhatikan
adalah pada saat tanam dan penyulaman, pemupukan, pembungaan, pembentukan buah
dan pengisian biji.
Pengairan
diberikan setiap pagi hari dan dilakukan dengan penyiraman atau dikocor
menggunakan gembor.
d.
Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 7 hari sekali
dengan cara aplikasi yaitu kocor dan ditugal. Pemberian pupuk dengan cara
dikocor adalah dengan cara melarutkan pupuk campuran (± 200 gram) ke dalam 1
timba air (± 10 liter air). Pupuk yang telah larut kemudian dikocorkan di
sekitar perakaran agar cepat diserap oleh tanaman dengan takaran 1 cangkir atau
gayung kecil (± 200 ml)/tanaman.
Teknik
tugal dilakukan dengan cara menugal tanah sedalam ±10 cm dengan jarak lubang
tugalan dengan tanaman yaitu ± 15 cm. Takaran pupuk dengan teknik tugal 1
sendok makan (± 20 gram) kemudian disiram dengan air.
e. Pemeliharaan
cabang dan perambatan
Kegiatan pemeliharaan dan perambatan ini dilakukan
untuk memaksimalkan hasil yang akan diperoleh dan memudahkan dalam melakukan
polinasi. Pada jenis tanaman ketimun yang di polinasi pada batang utama,
pewiwilan dilakukan di semua cabang yang muncul. Sedangkan pada jenis tanaman
ketimun yang di polinasi pada cabang, pewiwilan dilakukan mulai daun pertama
sampai ke-6 di buang. Setelah
dilakukan pewiwilan, selanjutnya adalah mengikat batang tanaman pada lanjaran
agar kuat dan tidak mudah roboh. Kemudian
lakukan perambatan tanaman mengikuti lanjaran dengan dengan mengikat batang
tanaman.
e. Teknik Persilangan
Polinasi/persilangan
merupakan teknik yang digunakan untuk menghasilkan benih hibrida F1 dengan cara
menyilangkan dua tanaman induk yang memiliki keunggulan secara genetik.
Polinasi pada tanaman ketimun dilakukan pada saat tanaman berumur 30 hst.
Polinasi pada tanaman ketimun dilakukan pada waktu pagi sekitar pada jam 06.30
pagi-10.00 siang hari. Hal ini disebabkan bunga tanaman ketimun akan mekar pada
siang hari. Alat dan bahan yang digunakan untuk polinasi ketimun antara lain: Sungkup (cup) dari sedotan, Benang Siet dipotong
kecil-kecil), kertas minyak, keranjang plastik, staples dan isi staples.
Berikut jadwal kegiatan polinasi pada
tanaman ketimun:
1. Pagi pukul 06.30-10.00
pekerjaan yang dilakukan adalah:
Melakukan
perkawinan buatan dengan bantuan tenaga manusia yaitu dengan cara :
Ø Membuka
mahkota bunga jantan hingga kelihatan serbuk sarinya dengan cara mahkota
dibelah.
Ø Membuka sungkup (cup) bunga betina dan meletakkannya dikeranjang
plastik untuk dipakai penyungkupan pada sore harinya.
Ø Membuka mahkota bunga betina melakukan polinasi dengan cara putik
diolesi dengan bunga jantan ( 1 bunga jantan untuk 1 bunga betina ).
Ø Mahkota
bunga betina ditutup dengan rapat dan lipat dengan kertas dan di setaples.
Ø Memberi tanda dengan benang siet (ikat) pada tangkai bunga betina
yang telah dipolinasi.
Ø Pada
saat polinasi / perkawinan, diusahakn untuk tidak memegang bakal buah, karena
apabila duri pada bakal buah rusak/patah, dapat mengakibatkan kegagalan
polinasi (buah tidak jadi).
2. Sore pukul (13.00 – 16.00) pekerjaan yang
dilakukan adalah :
Ø Membuangan
bunga jantan yang belum mekar pada tanaman betina.
Ø Memasang
sungkup (cup) bunga betina pada tanaman betina (bakal buah) yang besok pagi
mekar yang ada dicabang atau batang.
Ø Pemetikan bunga jantan
Bunga
jantan di petik pada tanaman
jantan dengan ciri-ciri : bunga masih kuncup & sudah berwarna kuning (besok
mekar), kemudian ditaruh di tempat yang sejuk (kamar mandi).
f.
Panen
Tanaman
ketimun yang diproduksi untuk benih dapat dipanen pada umur 40-45 hari setelah dilakukan
polinasi atau sekitar 60-70 hst. Sebelum dilakukan pemanenan perlu dilakukan
seleksi pada buah, buah yang tidak bertanda (tangkai tidak ada benang siet)
atau buah OP harus dibuang. Ciri-ciri buah ketimun yang siap dipanen antara
lain:
Ø Buah
sudah masak fisiologis (berwarna putih kekuningan merata).
Ø Jika
buah dipijat sudah terasa agak lunak.
Ø Buah
sudah berumur 30-40 hari setelah polinasi
g.
Prosesing
benih
Berikut
adalah cara prosesing benih ketimun:
Ø Mengumpulkan
buah yang sudah dipanen disuatu tempat, kemudian membelah dengan pisau menjadi
2 bagian.
Ø Mengerok
dengan tangan untuk mengeluarkan bijinya.
Ø Hasil
pengerokan diletakkan pada ayakan kawat kasa (ayakan pasir) agar airnya
berkurang.
Ø memasukkan
biji kedalam sak dan diperam selama satu malam.
Ø Pagi
harinya biji yang ada di dalam sak dicuci, kemudian dirambang (benih yg
melayang /terapung dibuang).
Ø Mencuci
benih dengan deterjen sampai bersih.
Ø membilas
dengan air bersih hingga sisa busa/kotoran betul-betul bersih
Ø Melakukan
SHT (seed health treatment) dengan
cara mencampur air dengan kaporit 2 sendok makan untuk 3 liter air
Ø Memasukkan
biji kedalam larutan kaporit
Ø Mengaduk-aduk
biji selama 3 menit, kemudian mendiamkan selama 3 menit dan melakukan secara
bergantian sampai 15 menit.
Ø Setelah
mengaduk dan mendiamkan selama 15 menit kemudian mencuci biji dengan air bersih
dan membilasnya sampai bersih (tidak berbusa).
Ø meletakkan
biji yang sudah bersih pada saringan yang halus agar air segera habis, setelah
itu kemudian melakukan penjemuran diatas nampan.
Ø Melakukan
pengeringan dengan menjemur dibawah sinar matahari pada pukul 08.00 – 10.00 dan
membolak-balik agar tidak menggumpal, pada pukul 10.00 – 14.00 memindahkan
pengeringan ditempat yang teduh agar kering angin. kemudian melakukan
pengeringan pada sore hari pukul 14.00 – 16.00 dibawah sinar matahari.
Ø Melakukan
sortasi benih setelah benih kering (jika benih dipatahkan langsung menjadi dua)
dengan melakukan penampian agar kotoran benih dan benih hampa hilang.
Ø Melakukan
pemisahan antara benih yang bagus dengan benih yang kurang bagus. Benih yang
kurang bagus akan dilakukan pembersihan ulang diperusahaan dan dikenakan biaya.
Ø Memasukkan
benih yang sudah bersih dan bagus kedalam kantong untuk siap di setorkan ke
perusahaan.