Minggu, 10 Januari 2016

PROPOSAL PENGAJUAN PRODUKSI BENIH KETIMUN CV. TANI MAKMUR




PROPOSAL PENGAJUAN
PRODUKSI  BENIH KETIMUN
CV. TANI MAKMUR

 

DISUSUN OLEH :
                          Anang Widi Nugroho       (7810)



SMK N 1 (STM PEMBANGUNAN)  TEMANGGUNG
Jl. Kadar Maron Sidorejo, KotakPos 104, Telp (0293) 4901639 Temanggung 56221
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Hortikultura merupakan komoditas pertanian khas tropis yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan memiliki prospek yang cerah di masa mendatang sekaligus sebagai sumber perolehan devisa bagi Indonesia. Nilai ekspor hortikultura pada bulan Februari 2007 mengalami peningkatan sebesar 34,46 persen dari bulan Januari 2007. Permintaan pasar domestik maupun pasar internasional terhadap komoditas hortikultura di masa mendatang diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan tingkat pendapatan. Tanaman hortikultura merupakan salah satu tanaman yang menunjang pemenuhan gizi mayarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat. Produksi hortikultura yaitu sayuran dan buah-buahan menyumbang pertumbuhan sektor pertanian nasional masing-masing sebanyak 3,1 juta ton dan 2,6 juta ton.
Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu dari tujuh jenis tanaman sayuran utama yang dibudidayakan oleh petani di Indonesia selain bawang merah, cabai, kacang panjang, kentang, kubis, dan tomat. Hampir di setiap wilayah Indonesia Mentimun menjadi alternatif komoditi yang dibudidayakan oleh petani hortikultura.  Namun hingga saat ini produktivitas yang dicapai persatuan luas lahan hanya mencapai 25 persen dari potensial produksi varietas mentimun yang beredar di Indonesia (Dit. Perbenihan Hortikultura, Ditjend. Hortikultura, Kementan., 2012).
Tabel 1. Luas panen, produksi, dan produktivitas Mentimun
Indikator
2010
2011
2012
2013
2014
Luas panen (Ha)
6,921
53,596
51,283
49,296
48,578
Produksi (Ton)
547,141
521,535
511,525
491,636
477,976
Produktivitas (Ton/Ha)
9 .61
9.73
9.97
9.97
9.84
Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura

Hingga tahun 2014 diketahui ketersediaan mentimun melalui produksi masih mencukupi kebutuhan nasional meskipun mengalami penurunan, namun penurunan luas lahan dan rendahnya produktivitas perlu diwaspadai sehingga dikemudian hari Indonesia tidak bergantung kepada impor.
Rendahnya produktivitas mentimun dapat diatasi dengan menggunakan bahan tanam yaitu benih mentimun yang unggul, berkualitas serta bersertifikasi. Benih bersertifikasi adalah benih yang sudah di resmikan oleh pemerintah setempat bahwa benih tersebut layak digunakan. Mengingat pentingnya benih, perlu diadakannya usaha untuk membuat benih yang berkualitas.












BAB II
Kegiatan Produksi
A.    Produksi benih ketimun (Cucumis sativus)
Kegiatan budidaya tanaman meliputi a) persemaian, b) pengolahan lahan, c) pemeliharaan, d) panen dan pasca panen, e) pengujian benih. Dalam kegiatan budidaya tanaman ketimun yang dilakukan oleh petani adalah dengan menggunakan benih ketimun yang berasal dari perusahaan. Benih ketimun indukan tersebut dinamakan stock seed.
1.                Stock Seed
Benih ketimun KE005 merupakan benih hibrida. Varietas hibrida merupakan generasi pertama atau FI dari suatu persilangan sepasang atau lebih tertua yang mempunyai sifat-sifat unggul. Kedua tetua dari varietas hibrida merupakan galur murni. Keunggulan yang terjadi pada hibrida yaitu karena adanya efek heterosis. Heterosis adalah keunggulan hibrida (F1) yang melebihi nilai atau kisaran kedua tetuanya. Penyebab dari heterosis masih belum pasti, akan tetapi secara genetik terjadi karena adanya: 1) heterozigositas dalam arti over dominan, dimana nilai F1 melebihi nilai kedua tetuanya karena adanya interaksi antar gen dalam satu lokus, 2) akumulasi gen dominan, dimana gen dominan dari satu tetua menambah dominan dari tetua lain, 3) interaksi antar alel berbeda lokus yang memberikan nilai lebih karena hasil penambahan dan perkalian gen dominan pendukung keunggulan sifat (Poespodarsono, 1998).
2.    Budidaya Tanaman Ketimun (Cucumis sativus)
a.    Persiapan Lahan
Pesiapan lahan bertujuan untuk menciptakan media tumbuh yang cocok untuk tanaman ketimun, baik tekstur tanah, drainase, maupun aerasinya. Pengolahan lahan dilakukan secara bertahap.
Sebelum petani melakukan pengolahan lahan maka terlebih dahulu ditentukan isolasi dengan varietas lain di sekelilingnya, hal ini penting dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi persilangan (Crossing) dan pencampuran fisik dengan varietas lain, sehingga akan diperoleh benih yang murni.
Tahap pertama dalam pengolahan lahan maka dilakukan pembajakan terlebih dahulu pembajakan tanah ini di lakukan 15 hari sebelum tanam dengan menggunakan bajak rotary. Setelah itu dilakukan pembuatan saluran drainase atau got keliling sedalam ±50 cm dan lebar 50 cm untuk menghindari genangan air. Setelah membuat saluran drainase selanjutnya pembentukan guludan, untuk tanaman jantan letaknya di pinggir dan untuk tanaman betina terletak di area tengah pada lahan. Selanjutnya di lakukan pemberian kapur dolomite sebanyak 100 kg untuk populasi 1000 tanaman ketimun. Setelah dilakukan pemberian dolomit kemudian disiram dengan air agar dolomit dapat segera beraksi dengan tanah.
Tanah yang sudah di olah kemudian di biarkan selama 1-2 minggu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan mengeringkan lahan yang telah diolah, agar hama dan pathogen yang terdapat di lahan tersebut terbunuh dengan adanya panas dari sinar matahari.
Tahap kedua dari pengolahan lahan yaitu melakukan pembuatan guludan yang siap untuk ditanami. Untuk budidaya ketimun sistem tanam yang digunakan adalah single row. Guludan dibuat dengan lebar 60 cm dan tinggi guludan 30 cm, setelah terbentuk guludan maka selanjutnya adalah pemberian pupuk dasar untuk luas lahan 500 m2 dengan populasi tanaman sekitar 1000 tanaman yaitu ZA 15 kg, KCL15 kg. Pemberian pupuk dengan cara disebar di alur penanaman. Setelah diberi pupuk dasar selanjutnya adalah melakukan penyiraman (turap atau lep) dengan tujuan agar pupuk segera dapat diserap oleh tanaman.
Pemasangan mulsa plastik hitam perak dilakukan setelah guludan basah dengan tujuan agar menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma. Pemasangan mulsa di lakukan pada siang hari sekitar jam 12-2 siang, hal ini bertujuan agar mulsa dapat mudah di ulur dan biar tidak cepat mengkerut sehingga bisa tahan lama. Setelah pemasangan mulsa hitam perak, kegiatan dilanjutkan dengan pembutan lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang sudah ditetapkan. Lubang tanam di buat sedalam 5 cm dan lebar 10 cm.
Sistem tanam yang digunakan dalam budidaya ketimun ada 2 yaitu :
Single row (baris tunggal) adalah penanaman ketimun dimana dalam satu guludan terdapat satu baris tanaman
-      Lebar guludan : 60 cm
-      Jarak tanam : 110 cm x 50 cm
-      Ukuran mulsa : 80 cm
Sistem penanaman ini dilakukan pada tanaman Female F1 yang polinasinya dilakukan pada cabang.
Double row (baris ganda) adalah penanaman ketimun dimana dalam satu guludan terdapat dua baris tanaman
-      Lebar guludan : 80 cm
-      Jarak tanam : 60 cm x 50 cm
-      Ukuran mulsa : 120 cm
Sistem penanaman ini dilakukan pada tanaman jantan dan jenis tanaman ketimun OP
b.    Persemaian benih
Persemaian dilakukan dengan menggunakan polibag. Media yang digunakan adalah tanah yang gembur, steril, dan murah. Biasanya para petani menggunakan tanah yang berada dibawah pohon bambu. Tanah sebaiknya diayak terlebih dahulu untuk menghilangkan batu dan kerikil, karena benda tersebut dikhawatirkan akan perakaran benih yang sehingga pertumbuhannya akan terganggu. Setelah tanah selesai di ayak kemudian dicampur dengan pupuk SP-36 sebanyak 1kg.
Polibag yang digunakan untuk persemaiaan adalah polibag dengan ukuran lebar 6 cm dan panjang 100 cm (berbentuk sosis). Langkah pertama adalah dengan mengisi polibag dengan media/tanah yang sudah seteril. Kemudian potong polibag (berbentuk sosis) yang sudah diisi tanah menjadi kecil-kecil sepanjang 6 cm dan tata ditempat pesemaian, kebutuhan polibag : tanaman betina = 750 buah, tanaman jantan = 250 buah.
Sebelum melakukan persemaian Stockseed ketimun ada beberapa cara yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan yaitu dengan menjemur benih Stock seed selama 30 menit, Penjemuran benih Stock seed ini dilakukan untuk menurunkan kadar air. Setelah dijemur maka benih Stock seed ini harus direndam terlebih dahulu dengan menggunakan air dingin selama 2-3 jam, Setelah direndam maka benih Stock seed harus di cuci bersih lalu ditiriskan, pencucian ini di lakukan untuk menghilangkan lendir. Jika tidak dihilangkan lendir tersebut akan menimbulkan jamur dsb.
Benih Stock seed yang telah selesai ditiriskan kemudian dilakukan proses pemeraman dengan tujuan untuk merangsang benih agar tumbuh secara serempak. Pemeraman benih ini dapat dilakukan dengan menggunakan kain kaos atau kertas buram (kertas CD). Penggunakan kain kaos atau kertas buram ini dipilih karena kaos dan kertas buram memeliki kelembapan yang tinggi.
Pemeraman menggunakan kain kaos dilakukan dengan cara merendam kain kaos yang bersih ke dalam air panas atau mendidih selama 5-10 menit (agar jamur dan bibit penyakit mati), peras sampai tuntas (tidak menetes ). Jika menggunakan kertas buram dilakukan dengan cara mencelupkan kertas buram rangkap 3 kedalam air dingin hingga basah semua, angkat dan biarkan hingga airnya tidak menetes. Jika sudah benar-benar tidak menetes kemudian benih ditata satu lapis (tidak menumpuk) diatas kain kaos atau kertas buram dalam kondisi lembab kemudian ditutup dengan kain kaos atau kertas dan digulung atau dilipat kemudian diletakkan di tempat yang bersuhu hangat & stabil.
Pemeraman biasanya dilakukan pada malam hari sehingga pada pagi harinya benih Stock seed yang telah diperam akan keluar calon akar atau radikula, dan siap dipindah ke polibag.
Persemaian untuk benih ketimun ini dilakukan selama 6-7 hari. Perawatan yang dilakukan selama proses persemaian hanya menyiram air setiap hari pada waktu pagi hari. Penyiraman dilakukan pada pagi hari hal ini dilakukan karena  proses fotosintesis maksimal terjadi pada waktu pagi sampai siang hari. Intensitas penyiraman melihat kondisi media semainya.
Waktu penyemaian tanaman jantan dan betina dilakukan secara berbeda, hal ini bertujuan agar pertumbuhan tanaman jantan lebih cepat dan dapat berbunga lebih cepat karena bunga jantan tanaman jantan digunakan untuk polinasi di bunga betina tanaman betina.
c.    penanaman
penanaman dilakukan setelah bibit berumur 6-7 hari setelah semai (hss) yaitu kotiledon sudah terbuka dan daun sempurna sudah nampak. Jika bibit semai terlambat di pindahkan maka yang akan terjadi adalah tanaman sudah besar dan cepat layu.Sebelum dilakukan penanaman pastikan pemberian pupuk dasar telah diberikan minimal 7 hari sebelumnya.
Penanaman dilakukan pada sore hari antara pukul 14.00-selesai dengan cara membuka plastik polibag kemudian memasukkan bibit kedalam lubang tanam sampai diatas leher akar.  Setelah itu kemudian dilakukan penyiraman agar tanaman segera dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
d.   Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan pada saat produksi benih ketimun antara lain yaitu, penyulaman, pemasangan lanjaran, pengairan, pemupukan susulan, pewiwilan dan pengandalian hama.
a.       Penyulaman
adalah mengganti tanaman yang tidak tumbuh atau mati. Dalam budidaya ketimun penyulaman dapat dilakukan maksimal 5 hari setelah tanam untuk tanaman OP atau tanaman jantan, sedangkan untuk tanaman betina penyulaman dilakukan maksimal 2 hari setelah tanam.

b.    Pemasangan Lanjaran
Pemasangan Lanjaran sebaiknya segera dilakukan untuk menghindari putusnya akar apabila pemasangan lanjaran dilakukan terlalu lama. Tinggi lanjaran 150 cm dan dipasang tegak, 1 lanjaran untuk 1 tanaman dan diberi tali rambatan 3-4 tingkat. Tali rambatan digunakan untuk mempermudah melakukan perawatan.
c.    Pengairan
Pengairan dilakukan dengan menggunakan air bersih dan dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman, karena tanaman ketimun termasuk jenis tanaman yang membutuhkan air cukup banyak. Waktu pemberian air yang perlu diperhatikan adalah pada saat tanam dan penyulaman, pemupukan, pembungaan, pembentukan buah dan pengisian biji.
Pengairan diberikan setiap pagi hari dan dilakukan dengan penyiraman atau dikocor menggunakan gembor.
d.   Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 7 hari sekali dengan cara aplikasi yaitu kocor dan ditugal. Pemberian pupuk dengan cara dikocor adalah dengan cara melarutkan pupuk campuran (± 200 gram) ke dalam 1 timba air (± 10 liter air). Pupuk yang telah larut kemudian dikocorkan di sekitar perakaran agar cepat diserap oleh tanaman dengan takaran 1 cangkir atau gayung kecil (± 200 ml)/tanaman.
Teknik tugal dilakukan dengan cara menugal tanah sedalam ±10 cm dengan jarak lubang tugalan dengan tanaman yaitu ± 15 cm. Takaran pupuk dengan teknik tugal 1 sendok makan (± 20 gram) kemudian disiram dengan air.
e.       Pemeliharaan cabang dan perambatan
Kegiatan pemeliharaan dan perambatan ini dilakukan untuk memaksimalkan hasil yang akan diperoleh dan memudahkan dalam melakukan polinasi. Pada jenis tanaman ketimun yang di polinasi pada batang utama, pewiwilan dilakukan di semua cabang yang muncul. Sedangkan pada jenis tanaman ketimun yang di polinasi pada cabang, pewiwilan dilakukan mulai daun pertama sampai ke-6 di buang. Setelah dilakukan pewiwilan, selanjutnya adalah mengikat batang tanaman pada lanjaran agar  kuat dan tidak mudah roboh. Kemudian lakukan perambatan tanaman mengikuti lanjaran dengan dengan mengikat batang tanaman.
e.       Teknik Persilangan
Polinasi/persilangan merupakan teknik yang digunakan untuk menghasilkan benih hibrida F1 dengan cara menyilangkan dua tanaman induk yang memiliki keunggulan secara genetik. Polinasi pada tanaman ketimun dilakukan pada saat tanaman berumur 30 hst. Polinasi pada tanaman ketimun dilakukan pada waktu pagi sekitar pada jam 06.30 pagi-10.00 siang hari. Hal ini disebabkan bunga tanaman ketimun akan mekar pada siang hari. Alat dan bahan yang digunakan untuk polinasi ketimun antara lain: Sungkup (cup) dari sedotan, Benang Siet dipotong kecil-kecil), kertas minyak, keranjang plastik, staples dan isi staples.
Berikut jadwal kegiatan polinasi pada tanaman ketimun:
1.    Pagi pukul 06.30-10.00 pekerjaan yang dilakukan adalah:
Melakukan perkawinan buatan dengan bantuan tenaga manusia yaitu dengan cara :
Ø Membuka mahkota bunga jantan hingga kelihatan serbuk sarinya dengan cara mahkota dibelah.
Ø Membuka sungkup (cup) bunga betina dan meletakkannya dikeranjang plastik untuk dipakai penyungkupan pada sore harinya.
Ø Membuka mahkota bunga betina melakukan polinasi dengan cara putik diolesi dengan bunga jantan ( 1 bunga jantan untuk 1 bunga betina ).
Ø Mahkota bunga betina ditutup dengan rapat dan lipat dengan kertas dan di setaples.
Ø Memberi tanda dengan benang siet (ikat) pada tangkai bunga betina yang telah dipolinasi.
Ø Pada saat polinasi / perkawinan, diusahakn untuk tidak memegang bakal buah, karena apabila duri pada bakal buah rusak/patah, dapat mengakibatkan kegagalan polinasi (buah tidak jadi).

2.    Sore pukul (13.00 – 16.00) pekerjaan yang dilakukan adalah :
Ø Membuangan bunga jantan yang belum mekar pada tanaman betina.
Ø Memasang sungkup (cup) bunga betina pada tanaman betina (bakal buah) yang besok pagi mekar yang ada dicabang atau batang.
Ø Pemetikan bunga jantan
Bunga jantan di petik pada tanaman jantan dengan ciri-ciri : bunga masih kuncup & sudah berwarna kuning (besok mekar), kemudian ditaruh di tempat yang sejuk (kamar mandi).
f.       Panen
Tanaman ketimun yang diproduksi untuk benih dapat dipanen pada umur 40-45 hari setelah dilakukan polinasi atau sekitar 60-70 hst. Sebelum dilakukan pemanenan perlu dilakukan seleksi pada buah, buah yang tidak bertanda (tangkai tidak ada benang siet) atau buah OP harus dibuang. Ciri-ciri buah ketimun yang siap dipanen antara lain:
Ø Buah sudah masak fisiologis (berwarna putih kekuningan merata).
Ø Jika buah dipijat sudah terasa agak lunak.
Ø Buah sudah berumur 30-40 hari setelah polinasi
g.      Prosesing benih
Berikut adalah cara prosesing benih ketimun:
Ø Mengumpulkan buah yang sudah dipanen disuatu tempat, kemudian membelah dengan pisau menjadi 2 bagian.
Ø Mengerok dengan tangan untuk mengeluarkan bijinya.
Ø Hasil pengerokan diletakkan pada ayakan kawat kasa (ayakan pasir) agar airnya berkurang.
Ø memasukkan biji kedalam sak dan diperam selama satu malam.
Ø Pagi harinya biji yang ada di dalam sak dicuci, kemudian dirambang (benih yg melayang /terapung dibuang).
Ø Mencuci benih dengan deterjen sampai bersih.
Ø membilas dengan air bersih hingga sisa busa/kotoran betul-betul bersih
Ø Melakukan SHT (seed health treatment) dengan cara mencampur air dengan kaporit 2 sendok makan untuk 3 liter air
Ø Memasukkan biji kedalam larutan kaporit
Ø Mengaduk-aduk biji selama 3 menit, kemudian mendiamkan selama 3 menit dan melakukan secara bergantian sampai 15 menit.
Ø Setelah mengaduk dan mendiamkan selama 15 menit kemudian mencuci biji dengan air bersih dan membilasnya sampai bersih (tidak berbusa).
Ø meletakkan biji yang sudah bersih pada saringan yang halus agar air segera habis, setelah itu kemudian melakukan penjemuran diatas nampan.
Ø Melakukan pengeringan dengan menjemur dibawah sinar matahari pada pukul 08.00 – 10.00 dan membolak-balik agar tidak menggumpal, pada pukul 10.00 – 14.00 memindahkan pengeringan ditempat yang teduh agar kering angin. kemudian melakukan pengeringan pada sore hari pukul 14.00 – 16.00 dibawah sinar matahari.
Ø Melakukan sortasi benih setelah benih kering (jika benih dipatahkan langsung menjadi dua) dengan melakukan penampian agar kotoran benih dan benih hampa hilang.
Ø Melakukan pemisahan antara benih yang bagus dengan benih yang kurang bagus. Benih yang kurang bagus akan dilakukan pembersihan ulang diperusahaan dan dikenakan biaya.
Ø Memasukkan benih yang sudah bersih dan bagus kedalam kantong untuk siap di setorkan ke perusahaan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar